BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kebiasaan siswa dalam membuang
sampah, tergantung pada siswa itu sendiri. Permasalahan ini dapat berdampak negatif,
jika seseorang siswa membuang sampah sembarangan. Jika kita lihat di lingkungan
sekolah masih banyak siswa yg membuang sampah sembarangan.
Alasan ini muncul pada kesadaran siswa dalam membuang sampah, alasan siswa
membuang sampah sembarangan mungkin tempat sampahnya jauh atau sebagainya
tetapi ada saja siswa yang tidak peduli dengan lingkugan dengan membuang sampah
sembarangan.
Lingkungan yang kotor dan sampah berserakan membuat suasana sekolah kotor yang
dapat menimbulkan kegiatan belajar mengajar tidak berjalan baik (tidak nyaman).
Oleh karena itu kita perlu mengatasi masalaah ini agar suasana sekolah bersih
dan nyaman.
1.2 Tujuan Penelitian
·
Untuk mengetahui jumlah siswa kelas XI SMAN
1 Bukittinggi tahun pelajaran 2012/2013
yang berkebiasaan membuang sampah pada tempatnya?
·
Untuk mengetahui cara untuk membiasakan
siswa kelas XI SMAN 1 Bukittinggi tahun pelajaran 2012/2013 membuang sampah
pada tempatnya
1.3 Rumusan
masalah
·
Berapa banyak siswa kelas XI SMAN 1 Bukittinggi tahun pelajaran 2012/2013 yang
berkebiasaan membuang sampah pada tempatnya?
·
Bagaimana cara untuk membiasakan siswa kelas XI SMAN 1 Bukittinggi tahun
pelajaran 2012/2013 untuk membuang sampah pada tempatnya?
BAB II
LANDASAN TEORI
LANDASAN TEORI
Kebersihan adalah keadaan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya, debu, sampah, dan bau. Di zaman modern, setelah Louis Pasteur menemukan
proses penularan penyakit atau infeksi disebabkan oleh mikroba, kebersihan juga berarti bebas dari virus, bakteri patogen, dan bahan kimia berbahaya.
Kebersihan adalah salah satu tanda dari keadaan higinis yang baik.
Manusia perlu menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri agar sehat,
tidak bau, tidak malu, tidak menyebarkan kotoran, atau menularkan kuman
penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebersihan badan meliputi
kebersihan diri sendiri, seperti mandi, menyikat gigi, mencuci tangan, dan memakai pakaian yang bersih.
Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat belajar (kelas), dan berbagai sarana umum. Kebersihan
tempat belajar (kelas) dilakukan
dengan cara melaksanakan
piket, membuang sampah pada tempatnya, membersihkan debu-debu dsb. Kebersihan
lingkungan kelas dimulai dari
menjaga kebersihan meja dan kursi, dan
membersihkan bearanda di depan kelas dari sampah.
seperti yang dikatan tadi, untuk menjaga kebersihan kita harus menerapkan sanitasi
lingkungan membuang sampah pada tempatnya dan membuang sampah sudah menjadi
kegiatan rutin kita setelah menggunakan sesuatu benda, terutama dalam hal
makanan. Sering kita lihat, di sekolah terdapat selogan-selogan yang isinya
mengajak untuk menjaga kebersihan lingkungan seperti “Kebersihan itu sebagian
dari iman” ataupun “Buanglah sampah pada tempatnya”, Akan tetapi tidak jarang
pula orang yang tidak mempedulikannya. Oleh karena itu, disini akan di lakukan
penelitian untuk mengetahui kebiasaan siswa kelas XI SMAN 1 Bukittinggi tahun
pelajaran 2012/2013 dalam membuang sampah.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1TABEL
PENGAMATAN
NO
|
Pertanyaan
|
Sampel
|
|||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
||
1
|
Apakah kalian pernah membuang sampah sembarangan?
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
2
|
Apakan di kelas kalian ada tempat sampah?
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
3
|
Menurut diri kalian sendiri, kalian mendominasi membuang
sampah pada tempatnya atau membuang sampah sembarangan selama bersekolah di
SMAN 1
|
S
|
P
|
P
|
P
|
P
|
P
|
S
|
S
|
S
|
P
|
P
|
S
|
4
|
Apakah kalian selalu menjaga kebersihan kelas?
|
K
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
Y
|
K
|
K
|
Y
|
Y
|
K
|
*Keterangan
Y(ya), K(kadang-kadang), S(Sembarangan), P(pada tempatnya).
3.2 Pembahasan
Dalam
penelitian ini mendapatkan jawaban-jawaban dari 12 sampel yang menjawab petanyaan-pertanyaan
dari penelitian ini, penelitian ini memberikan 4 pertanyaan kepada sampel, saat
ketika responden di tanya “Apakah kalian pernah membuang sampah sembarangan?”
seluruh responden menjawab ya, lalu ketika responden di tanya “Apakan di kelas
kalian ada tempat sampah?” responden menjawab ya ada 12. Lalu Ketika responden
ditanya “Menurut diri sendiri, kalian mendominasi membuang sampah pada
tempatnya atau membuang sampah sembarangan selama bersekolah di SMAN 1”
responden menjawab pada tempatnya ada 7 dan membuang sampah sembarangan ada 5.
Ketika responden di tanya “Apakah kalian selalu menjaga kebersihan kelas?”
responden yang menjawab ya ada 8 dan menjawab kadang-kadang ada 4.
Dari penjelasan diatas, penelitian ini mendapatkan data bahwa 99% siswa kelas
XI SMAN 1 Bukittinggi tahun pelajaran 2012/2013 pernah membuang sampah, lalu
setiap kelas memiliki tempat sampah 99% dan siswa yang berkebiasaan membuang
sampah pada tempatnya berkisar 65% dan siswa yang membuang sampah sembarangan
hanya 45%.
BAB
IV
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Penulis
dapat menyimpulkan bahwa kesadaran siswa siswa kelas XI SMAN 1 Bukittinggi
tahun pelajaran 2012/2013 dalam membuang sampah masih kurang, oleh karena itu
kita siswa siswa kelas XI SMAN 1 Bukittinggi tahun pelajaran 2012/2013 yang bersekolah
di SMAN I sepatutnya untuk menjaga kebersihan sekolah untuk agar lingkungan
hidupnya serasi dan seimbang, sehingga tidak menggangu aktivitas belajar
mengajar dan tidak sekolah mempengaruhi kehidupan kita
5.2
Saran
Dalam penelitian ini mandapatkan usul dari beberapa sampel agar siswa-siswi kelas
XI SMAN 1 Bukittinggi tahun pelajaran 2012/2013 senantiasa membuang sampah
sebagai berikut:
1. Siswa diharapkan mempunyai
kesadaran dari hati nuraninya sendiri untuk menjaga kebersihan.
2. Petugas piket harus membersihkan
kelas serta lingkungan sekitar.
3. Guru wajib menegur siswa yang
membuang sampah sembarangan.
4. Menyediakan tempat sampah di
setiap tempat rawan sampah
5. Memberi sanksi tersendiri bagi
siswa yang melakukan pelanggaran terutama membuang sampah sembarangan.
Untuk menjaga kebersihan sekolah kita, kita harus membenahi dan membiasakan
diri sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya dan senantiasa menjaga
kebersihan di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Asmara,
Adi. (2008) Pengetahuan lingkungan alam
kelas X. Bandung: CV Antikan Mandiri
Endang,
haris. (2010) Lingkungan kita.
Bandung: PT Gelora Aksara Pratama.
Yanuar,
Budi. (2006) Tegar lingkungan.
Jakarta: Erlangga.
Situs
:
TUGAS BAHASA INDONESIA
KARYA
ILMIAH
“KEBIASAAN
SISWA KELAS XI SMA N 1 BUKITTINGGI DALAM MEMBUANG SAMPAH”
O
L
E
H
NAMA: YULIA WARDHANI
KELAS: XI IPA 5
SMAN
1 BUKITTINGGI
TAHUN
PELAJARAN 2012/2013
R.A Kartini, Riwayat dan Perjuangannya
Judul : R.A Kartini, Riwayat dan Perjuangannya
Penulis : Drs. Mardanas Safwan
Sutrisno Kutojo
Tebal : 65 halaman
Penerbit : PT. Mutiara Sumber Widya
Tahun : Cetakan Pertama 1985
Cetakan Kedua 2001
Cetakan Ketiga 2004
Penulis : Drs. Mardanas Safwan
Sutrisno Kutojo
Tebal : 65 halaman
Penerbit : PT. Mutiara Sumber Widya
Tahun : Cetakan Pertama 1985
Cetakan Kedua 2001
Cetakan Ketiga 2004
Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April
tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang
masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Rakyat
(sekarang adalah Sekolah Dasar) ia tidak diperbolehkan melanjutkan
sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil
menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini yang merasa tidak bebas menentukan
pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan
sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun
teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita
Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan
kurang baik itu.
Kartini
kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani
karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia
mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang
kemudian dibacanya di taman rumah. Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada
hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar juga dibacanya. Kalau ada
kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu
menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan
berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia).
Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia, wanita tidak hanya
didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan
teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya.
Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan
teman-temannya yang berada di negeri Belanda.
Tak
berapa lama ia menulis surat pada Mr. J.H Abendanon. Ia memohon diberikan
beasiswa untuk belajar di negeri Belanda. Ia berhasil mendapatkan beasiswa
tersebut, namun sayangnya beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan
Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati
Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya
mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat
kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya,
Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut
adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak
membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan
siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.
Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr. J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr. J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Television for Social Construction
Television is today a part of daily life. It is not only a source of
entertainment but also news and information. television is also a
valuable tool for science, education and industry
What makes television even more interesting is that action is
accompanied by sound, so that we can see as well as hear what on the
television. Today we can stay at home and enjoy entertainment that once
could be seen only in cinema, theaters and sport arenas. Television
enables to meet important people. It can bring important guests and
important scene to receivers who are located anywhere.
Television has a great influence on our idea about what is right and
what is wrong. It influences the way which we should behave.
Television has close related to our life in general. Some times the
value and life style we get from television are in conflict with those
that we get at home and school.
Critics point out that crime and TV show often appeal to taste for
violence, while many games and quizzes appeal to greedy. it is important
to suggest that television should be used for socially constructive
purpose for the shake of better life.